now i have turned 21 years old…
makasih ya semuanya…
—————————————————————-
gak terasa udah satu tahun tepat gue gak posting disini, hehe…
kEy: Digital Artist
now i have turned 21 years old…
makasih ya semuanya…
—————————————————————-
gak terasa udah satu tahun tepat gue gak posting disini, hehe…
13
DESEMBER 1987
PENGORBANAN,
Inilah hari dimana
seorang wanita sedang bertaruh nyawa untuk melahirkan sosok yang
sudah dikandunginya selama 9 bulan, tetes keringat dan hembusan nafas
yang tak teratur karena lapisan kulit mulai dibedah, dimana wanita
tersebut hanya ditemani sang suami. Wanita tersebut bernama Elly
Maryunani, dan Suami yang menemaninya adalah Zulkifly Anwar. Mereka
adalah kedua orang tuaku, merekalah yang selalu menunggu
kedatanganku. Derita yang dialami wanita itu selama persalinan
akhirnya berbuah manis. Sesaat hatinya sangat bahagia saat pertama
kali mendengar tangisanku yang tidak jelas apa maksudnya, meskipun
wanita itu masih terengah-engah kehabisan tenaga untuk melahirkanku.
Sebuah pengorbanan yang besar bagi seorang wanita. Dan saat itu pula
wanita tersebut, menjadi ‘IBU’…
CINTA,
Inilah cinta,
sebuah rasa yang hanya dipunyai seorang wanita tegar dan rela
berkorban hanya untuk sesuatu yang kecil, sesuatu yang disebut bayi
oleh manusia. Inilah cinta, yang dibangun bersama suami yang
dicintainya. Inilah cinta yang lahir, selama penantian yang panjang.
Dan inilah cinta, yang diberi nama, “ Rizky Gita Mahdi ”…
AIR MATA,
Ayahku
mengadzaniku, layaknya kewajiban yang sudah ada dalam agama. Ibu
hanya menangis. Sebuah tangisan yang syarat banyak makna. Tangisan
karena penderitaan selama proses kelahiranku, tangisan melepas masa
muda demi membangun sebuah keluarga, tangisan yang tulus karena
bahagia, dan tangisan pertama… Yang membuatnya sempurna, sebagai
perempuan…
13 DESEMBER 1987,
This is not my
day…
But thanks to my
mom…
29 november 2007, 11:00 am.
after the love is gone.
ada beberapa kisah yg ingin aku bagi,
tentang bagaimana akhirnya aku mengerti setelah menjalani semua,
jalur yang aku lalui. Kenyataan ini aku buat seperti narasi.
Berdurasi tergantung darimana kalian mengerti dan memahami ceritanya,
dibuat dengan alur maju mundur, tanpa melewatkan 1 fakta, mengenai
apa yang aku lalui, apa yang aku lihat, apa yang mengajariku, dan apa
yang aku rasakan. Agak panjang memang, atau mungkin bagi kalian yang
ingin membacanya, bagian ini terlalu panjang. Tapi disinilah aku
bercerita. Berdasarkan diary hidupku, Untuk pertama kalinya. Sebelum
aku tidak bisa cerita suatu saat. Yah, siapa tau..
mengendarai perasaan emang tak semudah
mengendarai sepeda. terkadang emang butuh waktu sebelum kamu
benar-benar bisa menjalankannya dengan lancar, tak jarang pula kamu
harus mengenal rasa ingin tahu, memahami bagaimana cara tercepat
untuk mengendarainya, dan mengijinkan tempat yang luas untuk
menampung datangnya rasa sakit.
1 desember 2002,
Namaku rizky, siswa kelas 3 smp yang
ceria dan banyak sahabat. Aku paling pandai dikelas,yah walaupun
tidak dapat ranking 1 tentunya. Saat-saat indah terus kulalui bersama
sahabat-sahabatku. Saling bercanda, main musik bareng, hingga
cerita-cerita pengalaman yang sebelumnya belum pernah aku
mengalaminya. Muhidin, itulah nama yang tertulis di takdirnya. Nama
yang selalu mendampingiku kemanapun aku pergi, sahabat yang sangat
setia, pengertian, dan selalu membantuku dalam keadaan apapun.
Seorang cowok yang kuat, tidak terlihat secara fisik emang, tapi dia
cukup kuat dalam menjalani hidupnya.
6 desember 2002,
Shalat jumat disekolah sudah terjadwal,
dan tentunya tanpa jadwal pun, sudah wajib untuk melakukannya.
Kelelahan dibawah panasnya matahari siang tidak membuat semangat
siswa-siswa yang mengikuti shalat jumat luluh, malah mereka
menjalaninya dengan hati dan sungguh-sungguh. Ketika usai menjalani
shalat jumat, layaknya siswa kelas 3 smp, tetaplah seorang anak-anak,
yang hanya terproses menuju kematangan, mereka berlarian untuk
buru-buru pulang. Tak satupun wajah sedih terpampang di wajah mereka.
Termasuk aku,
Akupun hendak melakukan kegiatan
seperti yang mereka lakukan, cepat-cepat mengemasi buku-buku, sarung,
dan lainnya untuk segera pulang karna perutku sudah letih menahan
lapar, dan bila sampai dirumah dengan cepat, aku akan berkata kepada
mama’ku, ‘ma,hari ini aku pulang lebih cepat bukan?’. Dan
berharap mama akan menjawab pertanyaan itu dengan senyuman.
13 desember 1987,
Elly Maryunani, itulah nama dari sosok
ibu yang sudah susah payah melahirkanku di dunia ini, dengan wajah
letih setelah bertaruh nyawa untuk melahirkan satu anugrah yang
diberikan kepadanya, dia tetap tersenyum memandangiku yang sama
sekali belum mengerti apa-apa tentang dunia, kasih sayang,
kekeluargaan, persahabatan, dan cinta. Mama selalu memberiku
segalanya, perhatiannya tak luput kepadaku sedikitpun. Meski sering
aku menangis tanpa sebab, membuang kotoran dan menangis, menangis dan
menangis. Hanya itulah kegiatan seorang bayi. Bayi yang sekarang
sudah tumbuh hingga berusia 20tahun, sedang berbagi cerita tentang
fakta, dan semua yang kudapat dan kuberi, untuk orang-orang yang
menyayangiku. Termasuk papaku.
5 april 1985,
Zulkifly Anwar, adalah seseorang yang
membuatku bangga. Seseorang yang menikahi mamaku dengan cinta yang
besar dan menaruh harapan pada masa depannya bersama keluarga.
Seorang laki-laki yang kini menjadi papa’ku. Orang yang bagaimana
bisa menyayangiku lebih dari apapun, seorang ayah yang kuat dan tegar
dalam membesarkan masa depan dan kebahagiaan keluarganya dan anaknya.
Seorang yang patut dihargai jasanya melebihi apapun yang pantas untuk
dihargai. Tak ada sosok yang bias menopang hidupmu selain dia dan
ibumu. Karna hanya dialah orang yang akan mengajarimu hidup, baik
secara langsung maupun tidak langsung, aku merasakan betapa besar
sayang yang tidak bisa digambarkan hanya untuk 1 sosok kecil, yang
bernamakan lima huruf ini. Lima huruf yang menyimpan harapan dari
ayah dan ibunya. Lima huruf yang selalu membuat keduanya kadang
menangis. Lima huruf yang selalu merengek dikala malam tiba. Lima
huruf, yang akan selalu menyayangi mereka, melebihi siapapun,
melebihi apapun.
29 agustus 1990,
Didalam hidupku, ini adalah saat-saat
dimana aku mengenal pendidikan. Masuk taman kanak-kanak. Hari-hari
dimana aku sangat menggugah, dan akhirnya aku tau, bahwa itu rasanya
senang. Bertemu dengan manusia-manusia yang umurnya berkisar antara
3-4 tahun, membuatku tau bahwa mereka diantar ketempat ini untuk
saling mengenal, tertawa, dan berteman tentunya, dan yang pasti, aku
dan mereka, tetaplah anak-anak.
Tanggal ini adalah saat dimana aku
belum memahami arti dari perbuatan temen sekelasku. Namanya wita,
sosok gadis kecil, berkulit putih, berambut sebahu, dan paling pandai
dikelas. Suatu kesempatan pada jam istirahat, karma suatu hal aku
malas bermain diluar, dan aku hanya berdiam diri dikelas, ditemani
bangku-bangku dan meja, yang diatasnya terlantar tas-tas berisi buku
dan pensil yang tidak berdosa. Aku tidak menyadari bagaimana saat itu
wita memperhatikanku. Dia mendekatiku dan bertanya: ‘kenapa gak
main diluar?’, aku hanya tersenyum. Sesaat setelah aku memberi
senyuman yang sebenarnya berarti ‘wit,aku lagi malas ngomong dan
ngapa2in’, dia melakukan yang mungkin menurut hatinya, itu dapat
membuatku tenang. Suatu kegiatan yang sering aku rasakan saat ibu
mendekatkan bibirnya pada pipiku. Saat itu aku tau, dia menciumku.
Hanya saja baru aku mengerti sekarang. Aku yang memang belum mengerti
apa-apa saat itu, hanya bengong dan menjauhinya keluar kelas. Dan
karna sekarang aku sudah besar dan tau bahwa dulu ada gadis cilik
yang menciumku, aku sadar, bahwa dia sebenarnya bermaksud baik, hanya
saja dia tidak bisa menenangkanku dalam bentuk ungkapan, atau apapun.
Dan mungkin saat itu dia juga tidak sadar, bahwa dia sudah melakukan
hal yang bagi orang dewasa adalah dimana itu merupakan salah satu
bukti berupa sentuhan fisik, yang menyampaikan segumpal perasaan
untuk disampaikan kepada orang yang tepat. Itulah ‘ciuman’. Tidak
ada yang salah dengan apa yang telah dia lakukan kepadaku, hanya saja
sejak saat itu, aku dan dia mulai saling bercerita, tentang mainan,
buku pelajaran yang isinya hanya abjad semua, makan bersama, dan aku
jadi mengerti, walau ngerti dalam artian gak sempurna, bahwa aku,
ngerasa nyaman berada didekatnya. Aku juga gak tau apa sebutannya,
yang aku rasakan saat itu, aku nyaman, nyaman, dan nyaman, hingga
tidak pernah sabar untuk selalu hadir ke taman kanak-kanak tersebut,
setiap hari.
6 desember 2002,
Hari yang begitu panas setelah shalat
membuatku ingin cepat-cepat pergi meninggalkan sekolah, tapi sesaat
aku secara gak sengaja menunda, atau lebih tepatnya membatalkan untuk
pulang, setelah aku melihat sosok manis sedang melamun di samping
mushola sekolah. Wajahnya manis, sosoknya sangat terlihat lembut dan
keibuan, sosok yang saat itu hanya bisa aku pandangi seorang,
walaupun secara diam-diam. Ekspresinya alami, sungguh aku Cuma bisa
mandangi dia dari jarak 8 meter, yang sebenarnya bisa saja dia
melihatku bila dia tidak melamun tentunya
Entah kenapa aku selalu senang melihat
tingkahnya secara alami, cara dia tertawa bersama teman-temannya,
jalannya, keramahannya, membuatku yang mengintai dia diam-diam
menjadi gila. Gila dalam artian aku selalu menguntit dia kemanapun
dia pergi layaknya agen special FBI dalam memburu targetnya. Hingga
suatu saat, temen sekelasku yang bernama abdul, mengaku padaku bahwa
dia mengenal cewek tersebut. Namanya Linda, Meilinda. Satu kata yang
membuatku berfikir bahwa dia adalah gadis yang lahir dibulan mei,
haha, konyol emang, tapi itulah pikiranku saat tau namanya. Abdul
memang tidak pernah sekelas dengannya disekolah, tapi Linda merupakan
teman sekelas abdul di tempat bimbingan belajar. (Entah kenapa aku
selalu muak mendengar kata bimbingan belajar). Abdul bukan hanya
sekedar teman biasa bagi Linda, tapi sudah layaknya seorang sahabat.
Mengetahui hal itu tentu saja membuatku
sedikit gembira, yah sedikit. Karna sedikit yang lain adalah rasa iri
karna abdul telah mengenal Linda lebih dulu, dan untungnya abdul
tidak suka apalagi cinta padanya, dan mereka hanya sahabat.
Suatu siang jam 2 lewat, aku memutuskan
untuk mengikutinya bersama sahabatku muhidin (yah meski ia sebenarnya
tidak tau akan aku ajak kemana saat itu), membuntuti Linda dan
sahabatnya, Sarah, membuatku letih. Bayangkan saja, dia berdua
berjalan kaki sejauh kira-kira 3 kilometer dari sekolah hingga tiba
disebuah lapangan terkenal di kotaku. Saat sampai dilapangan, sarah
sedang membeli jajanan, dan saat itu pula aku melihat Linda sedang
sendiri disudut jalan. Aku mendekatinya, sahabatku muhidin tetap
pura-pura seolah-olah dia hanya sedang mencari angkutan umum.
Perlahan aku mendekatinya, sangat dekat, hanya saja aku gugup dan
takut menyapa. Hingga saat dia menoleh kesamping, (tepat dari arah
aku akan mendekatinya), aku kaget dan hanya diam. Aku melewatinya
begitu saja dan stop hanya beberapa langkah didekatnya. Aku bingung
dan akhirnya aku duduk dirumput menghadap lapangan yang pada saat itu
sedang ramai anak2 sekolah ngumpul. Aku terus bingung dalam duduk’ku.
Sesaat kemudian ada sosok langkah cewek melintas dihadapanku dan
tepat stop dan berdiri dihadapanku. Dia tersenyum, aku pun malu.
Bisa dibilang aku suka padanya, meskipun aku sudah menyukai fisiknya sejak pertama kali, tapi bukan itu yang membuatku sangat suka padanya. Dalam
hatinya lah, yang mengajarkan aku, se-ga-la-nya. Walaupun pada
akhirnya harus kutebus segala yang dia ajarkan dengan berpisah
dengannya, sedih memang. Tapi akhirnya aku tau. Aku merasakan rasa
yang sering aku lihat di film-film yang kadang membuat hatiku
bangga,senang,sedih,dan takut kehilangan. Itulah rasa sayang. Rasa
yang lahir dari perkenalan kita berdua. Rasa yang terdiri dari
susunan beberapa huruf, dan banyak makna.
8 agustus 2003,
Adalah masa-masa indah yang seharusnya
aku rasakan, akan tetapi masa-masa pertama SMU ini aku habiskan
dengan berdiam diri karna masih teringat ttg
Linda. Saat itu pula aku mendapat sahabat yang aku kenal sejak masa
orientasi.
Hendro namanya. Anak yang asik punya
dan memiliki style tersendiri saat itu. Dengan badan kecil dan rambut
kribonya, dia selalu optimis dengan yang dia lakukan, meski beberapa
hal tek sesuai dengan rasa optimisnya. Setiap hari dan setiap jam
istirahat, aku berdua dia selalu menghabiskan cerita-cerita tentang
bagaimana dulu masa-masa SMP, meski aku tidak terbuka dalam beberapa
hal kepada orang lain dan sahabat seakalipun. Dari hendro aku baru
tau bahwa dia ternyata satu SMP dengan sepupuku, Pipit. SMP Patra
dharma tentunya, sekolah dimana anak-anak dari seluruh pegawai
pertamina mendayung dan meneguk ilmu disitu.
28 desember 1987,
Hari ini adalah hari senin, tepatnya
sekitar 20 tahun yang lalu. Yah, Ismiana Awalidarisza atau lebih
dikenal dengan panggilan pipit. Adalah saudara sepupu yang sudah
seperti adik kandung bagiku lahir ke dunia ini dari rahim ibu bernama
Hamidah, dan ayahnya yang bernama Sudjito pun bahagia luar biasa..
Pipit lahir dan tumbuh menjadi wanita yang sangat mengerti apa arti
kebersamaan keluarga. Yah walaupun secara gak langsung aku membacanya
dari sifat sehari-harinya, tapi dialah yang terbaik. Dia mempunyai 2
adik. Tak jarang pula mereka kadang bertengkar, yah itu adalah hal
yang wajar. Malah mungkin harus terjadi, karna disaat kita sendiri
dan sepi, kita memikirkan itu semua. Semua yang pernah kita lakukan
dan yang lain lakukan pada kita, kita belajar. Bagaimana dia begitu,
kenapa, dimana sebenarnya yang harus kita benahi. Namun, berfikir
seperti itu tidak langsung membuat kita tidak bertengkar lagi. Tahap
ini dinamakan tahap pendewasaan pikiran. Tidak sepenuhnya. Hal yang
bagus untuk memulai mengenal bagaimana kamu akan mulai menyelam dalam
dunia dewasa tanpa bantuan orang lain. Kadang kita bisa tegar dalam
menghadapi suatu masalah, (atau bisa jadi sebenarnya itu bukan
masalah, hanya saja diri kita menganggap itu masalah), tapi kadang
kita tak bisa menahan airmata yang dengan gampangnya mengalir saat
kita merenungi sesuatu. Ini hidup, seperti novel, terkadang kita
harus membalik halaman yang sudah-sudah untuk memahami keadaan yang
sekarang, tapi kita masih tetap gak bisa menebak apa yang akan
terjadi di 1 lembar berikutnya. Bisa saja itu berubah drastis bagi
kita, entah bertambah buruk atau baik, dan terkadang 1 halaman
berikut, memberi pelajaran untuk bekal di halaman-halaman lainnya,
yang menantimu di halaman ‘tamat’. Pipit adalah seorang yang
berpikir keras, bukan keras kepala, tapi dia selalu berpikir dalam
hatinya, entah apa yang ada dipikirannya aku tidak bisa menebak, yang
pasti apapun yang dia pikirkan, apapun yang dia jalani, aku selalu
mendukungnya, dan sebagai saudara yang menyayanginya, aku bangga.
9 agustus 2003,
Dimana ini adalah saat-saat aku
memandangi tukang-tukang bangunan yang sedang mengerjakan bangunan
baru di sekolahku dari lantai 2 dimana kelasku berada. Mereka selalu
mengotori diri mereka dengan tanah dan bata hanya untuk membuat hidup
mereka tetap jalan. Aku salut. Tetapi kesalutan itu memudar saat ada
siswa yang mengajak aku bercanda, dan bodohnya aku tertawa nyaring.
Dialah satu-satunya siswa yang bisa membuatku ketawa hingga lupa
diri. Di bed nama yang menempel diseragamnya tertera tulisan Edwin
Pardamean, tapi dia lebih suka bila orang-orang memanggilnya edo.
Cowok dengan tinggi 180cm, berbadan besar, berkacamata, dan berambut
gelombang adalah ciri-cirinya. Anaknya memang energik dan selalu
penuh canda, dia pulalah yang akhirnya membuatku lupa akan kesedihan
setelah ditinggal linda. Hari-hari yang kulalui dengannya sungguh
gila, crazy dan fun. Hingga suatu saat dia sedang jatuh hati pada
kakak kelasnya, febri namanya. Anaknya manis dan hanya beda tipis
dengan tata young, aku serius. Hari-hari selalu dia lalui dengan
mengajukan pertanyaan gimana caranya ngedeketin cewek kepadaku. Aku
hanya bisa menjawab yang aku tau, tampaknya dia cepat tanggap dan
mengerti. Suatu saat dia mulai menjalankan pdkt’nya dengan lancar,
dan selanjutnya dia terus menjalankan hidup dan persoalan cintanya
dengan usahanya sendiri.
17 juli 2000,
Dimasa SMP ini aku sangat gugup, karna
baru pertama kalinya berpisah dengan teman-teman di SD. Akan tetapi
itu semua langsung hilang, aku tidak takut lagi tidak mendapat teman.
Ditempatkan di ruang kelas 1-9, aku bertemu dengan sosok aneh nan
kocak, Dimas, Faruqy, dan Indra. Dimas adalah siswa yang cukup gagah,
berkulit hitam, badannya agak gemuk, dan humoris. Faruqy adalah siswa
dengan tampilan ala Bob Marley, dengan rambut kribonya, stylenya yang
beda, dan humor yang beda juga tentunya. Indra, adalah siswa yang
menguasai bakat gambar dan lukis yang bagus, dia juga pandai membuat
dialog dalam komik, lucu, bersemangat dan tidak takut apapun. Kami
berempat akhirnya membentuk 1 grup yang diberi nama: ‘4 sekawan’.
Itu dikarnakan kami berempat sering ngumpul bareng, bercanda,
gokil2an, mengarang bebas yang berbau humor, menggambar, makan
bersama, dan lain-lain. Sampai suatu saat dimana kita sudah menduduki
kelas 3, kami berada dalam 1 kelas yang sama lagi, kelas yang
dianggap buangan karna nilainya tak sanggup bersaing dgn siswa lain,
kelas 3-10. dikelas inilah kami membuat komik humor berbau porno,
full forno. Hingga akhirnya komik itu ditemukan oleh guru PPKN kami,
ibu titik. Bu titik marah dan memanggil siapa yang menggambar ini
semua, akhirnya dimas mengaku, sesaat aku pikir aku selamat, tapi
ternyata dimas memanggil semua kru yang ikut berkontribusi ria dalam
menyukseskan tersebarnya komik biadab itu. Akhirnya kami dihukum dan
dicatat dalam buku siswa yang tidak berkelakuan baik. Huff, mau tidak
mau untuk sesaat kami berhenti menjadi pengarang komik porno. Yah,
untuk sesaat.
12 februari 2002,
Sebelumnya saat dikelas 3-10 aku
akhirnya mendapat peringkat 2 dikelas, padahal sebetulnya mungkin
bisa jadi peringkat 1 jika saja si indah yang menduduki peringkat
satu, tidak lebih 1 point nilai raportnya dariku. Yah, tapi itu sudah
cukup untuk merolling aku ke kelas yang lebih baik. Aku naik 2
tingkat, ke kelas 3-8. disinilah aku mulai gila lagi, bahkan lebih
gila dari sebelum-sebelumnya. Bertemu muhidin, taufik, dan Jason.
Humorku makin tak terkendali. Tiap hari tiap waktu yang aku kerjakan
hanya melawak, tertawa, dan tertawa. Dan tentunya tak lupa belajar.
Dikelas 3-8 entah kenapa aku sangat suka pelajaran sejarah dan
biologi. Itu yang membuatku dihafal guru karna ia kagum mengapa aku
cepat tanggap dan meresap (emangnya kain pel) apa yang mereka
ajarkan. Bangga juga sih, tapi itu tidak membuat pandangan guru yang
lainnya terhadapku sinis. Itu diakibatkan karna aku sering tertawa
dan melawak tiada henti. Akhirnya dari bangku depan, aku dipindah
kederetan bangku dibelakang agar kapok. Tapi dugaan mereka salah
besar, aku malah menjadi super-duper gila karna sebangku dengan
muhidin. Tiap hari kerjaan kami tertawa dan tertawa, hingga pernah
suatu saat dikeluarkan guru gara-gara tawa kami sangat mengganggu.
Tidak hanya itu, saat diluar kami bukannya malah merenungi kesalahan
kami, tapi kami bermain kejar-kejaran, sangat kencang lari kami
berdua, hingga akhirnya aku berpas-pasan dengan ibu Tata Usaha, ibu
yang mengajarkan kedisiplinan dan tersangar disekolah. ‘kmu rizky
kan, murid dikelas 3-8?itu bajunya dirapikan.’. dan ia langsung
membuka buku hitamnya yang dipenuhi catatan anak-anak yang kelam
benderang kelakuannya, dan sebelum meninggalkanku, dia menorehkan
satu nama dibuku itu, namaku.
[...part 1, fin...]